Wednesday, November 11, 2009
( Nemu karya luar biasa ciptaan Taufiq Ismail ini di sebuah blog multiply !! )


Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.

Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.

Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.

Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
 
posted by Heidy Kaeni at 12:46 PM | 0 comments
Tuesday, November 10, 2009
Melanjutkan curhat saya di Kisah dari Sebuah Ujian Kenaikan Kelas yang di antaranya melibatkan pengalaman suami menjadi salah satu penderita positif flu A H1N1 di Indonesia, ijinkan saya berbagi sedikit wawasan yang saya peroleh saat itu tentang flu A H1N1 itu sendiri. Mungkin saja saat ini info yang berkembang sudah lebih banyak, namun saya juga merasa mungkin saja tulisan ini masih lebih bermanfaat jika saya publish ketimbang jika teronggok begitu saja dalam harddisk laptop saya.

Apa yang membedakan gejala flu babi dengan gejala flu biasa? Apa yang membuat seseorang diduga terjangkit virus flu A H1N1 itu dan bukan virus flu biasa?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat kami datang jauh-jauh ke rumah sakit yang telah menjadi rumah sakit rujukan untuk setiap kasus flu A H1N1 di Jakarta itu. Saya, juga Mama, berpikir bahwa di sana para petugas yang telah menangani langsung kasus-kasus itu tentu lebih mengerti dan bisa mengetahui dengan cepat dan tepat apakah flu yang diderita suami saya adalah flu biasa atau H1N1. Namun ternyata pemikiran itu salah.
Di spanduk yang dipasang di beberapa bagian rumah sakit itu, saya baru mengetahui bahwa gejala flu H1N1 sama persis dengan flu biasa : demam, nyeri tenggorokan, batuk, pilek, kadang disertai mual dan muntah atau diare. Lalu seseorang bisa dinyatakan sebagai suspect flu A H1N1 jika menderita beberapa dari gejala flu tersebut dan ditambah pernah kontak erat dengan suspect flu tersebut atau baru datang dari daerah infeksius (luar negeri, misal Amerika atau Malaysia)

Proses diagnosa menjadi suspect flu A H1N1
Jadi, dokter yang pertama kali memeriksa Hamdan tidak mendiagnosa bahwa suami saya mungkin terjangkit virus flu A H1N1 setelah meneliti gejala-gejala yang mungkin tidak terlihat oleh kami, melainkan setelah melakukan wawancara dengan kami. Syarat pertama yaitu gejala yang tampak sudah jelas : Hamdan menderita batuk dan nyeri tenggorokan, lalu sudah 4 hari demam. Syarat kedua yaitu histori atau pengalaman kontaknya dengan suspect flu babi itulah yang sempat membingungkan.
Hamdan tidak baru saja datang dari luar negeri. Terakhir kali ia meninggalkan tanah air adalah kira-kira dua tahun yang lalu. Di Balikpapan, ia bertemu dengan banyak orang, dan tak tahu apakah di antaranya ada suspect flu babi atau tidak. Dia hanya tahu bahwa ditemukan kasus di platform lain yang menyebabkan semua pekerja di sana dikarantina, namun pada hari dilangsungkannya pemilu, ada sebagian dari mereka yang datang ke tempat pemilihan. Inilah contoh bahwa dari histori yang sangat meragukan pun ternyata cukup untuk menjadikannya suspect flu A H1N1.

Cara penularan flu A H1N1
Yang menyebabkan penyebaran flu A H1N1 sangat cepat adalah cara penularannya yang sangat mudah, yaitu melalui udara. Layaknya flu biasa, seorang penderita flu A H1N1 bisa menularkan virus flunya ketika ia bernapas ataupun batuk terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya saat itu. Oleh karena itulah, penderita flu sebaiknya memakai masker. Begitu pula sebaiknya orang-orang yang berada di sekitar penderita flu. Selain itu, virus tersebut juga bisa menular melalui benda-benda yang baru disentuh penderita dalam kurun waktu yang dapat ditoleransi si virus untuk bisa hidup yaitu kurang lebih satu jam (jadi kalau si penderita menyentuh meja lalu kita baru menyentuh meja tersebut besoknya ya tidak akan terjadi penularan karna si virus sudah mati).
Namun layaknya flu biasa, secepat dan semudah apapun penularannya...belum tentu semua orang langsung tertular flu begitu ada orang di sekitarnya menderita flu. Bukankah terkadang kita juga bisa merawat anggota keluarga kita yang terkena flu tanpa tertular? Yang mempengaruhi hal tersebut adalah daya tahan tubuh. Orang yang daya tahan tubuhnya lemah akan mudah sekali tertular penyakit, sementara yang lebih kuat akan lebih sulit terserang.
Menurut salah satu dokter ahli di lab penelitian dan pengembangan Depkes, masa inkubasi virus flu A H1N1 adalah 1 hingga 7 hari. Ini berarti gejala flu A H1N1 akan timbul dalam waktu 1 hingga 7 hari setelah seseorang terkontaminasi virus flu tersebut (ada kontak dengan orang yang memiliki gejala flu juga dan ternyata belakangan diketahui positif flu A H1N1), bergantung pada kekuatan daya tahan tubuh orang tersebut. Orang yang daya tahan tubuhnya sangat lemah dapat langsung ikut jatuh sakit sehari kemudian. Namun sebaliknya, orang yang daya tahan tubuhnya sangat kuat bisa saja takkan jatuh sakit. Oleh karena itu jika seseorang yang telah terkontaminasi virus tetap dapat bertahan (tidak sakit) sampai seminggu kemudian, maka dapat dipastikan ia telah berhasil bertahan dari virus yang telah masuk ke dalam tubuhnya dan mencoba menyerangnya.

Tips untuk bertahan saat ada ancaman menyerang
Saat suami dinyatakan positif terkena flu A H1N1, mau tidak mau saya juga mengkhawatirkan diri saya sendiri. Apakah saya juga sudah tertular? Bagaimana kalau saya sakit juga, padahal Hamdan sedang sangat membutuhkan saya?
Berdasarkan penjelasan dokter, saya tahu bahwa saya adalah orang yang saat itu berkemungkinan paling tinggi untuk tertular flu A H1N1 juga, mengingat Hamdan sempat pulang dan tidur sekamar dengan saya sebelum dibawa ke rumah sakit esok harinya. Namun, seperti yang saya sebutkan di atas, masa inkubasi virus tersebut adalah 1-7 hari. Saya jelas sudah terkontaminasi virus, tapi kondisi saya yang masih sehat walafiat tanpa sedikit pun gejala flu menandakan bahwa virus dalam tubuh saya belum berhasil menyerang pertahanan saya. Jika saya tidak mau terserang, maka saya harus terus mempertahankan kondisi siaga saya hingga hari ke-7. Alhamdulillah, dengan segala usaha yang diridhoi Allah SWT, saya berhasil. Berikut inilah yang saya lakukan untuk ’bertahan dlam perang’ itu :
- Berdoa sungguh-sungguh
- Empowering my mind. Saya hanya sempat larut dalam sedih di hari-hari pertama masa karantina Hamdan. Begitu tahu hasil pemeriksaan Hamdan, saya justru segera bangkit. I had no time to feel sad and cry. My top priority was to stay healthy. I had to be strong…for me, for my beloved life partner, and for those who care for us.
- Istirahat yang cukup. Sesibuk-sibuknya saya seharian mengurus keperluan suami yang sedang diopname di rumah sakit yang letaknya ‘ujung ke ujung’ dengan rumah saya, saya harus meluangkan waktu untuk tidur malam yang cukup dan nyenyak (itu berarti harus bebas dari stress sebelum tidur!)
- Minum air putih sebanyak-banyaknya, minimal 8 gelas sehari
- Makan makanan dengan gizi seimbang (karbohidrat, protein, lemak...pokoknya lengkap!)
- disempurnakan dengan susu (boleh susu sapi maupun kedelai), kurang lebih 500ml sehari
- dibantu juga dengan air jeruk nipis (sebagai pembentuk basa, karna tubuh dalam kondisi basa akan lebih susah sakit), jus buah (400-500ml) vitamin C dosis tinggi (1000 mg) dan madu (3 sendok makan) sehari
- olahraga, minimal gerak jalan atau senam kecil di bawah sinar matahari

Sikap media yang berlebihan dan apa yang sebenarnya terjadi
Flu A H1N1 sebetulnya bukan penyakit yang berbahaya. Dari informasi yang gw peroleh belakangan, tingkat kematian yang diakibatkan oleh flu A H1N1 ini bahkan lebih rendah daripada flu biasa. Ya, bukankah flu biasa juga bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik? Kejadian seperti itu dapat ditemukan di negara-negara yang mengalami musim dingin. Lagipula, korban-korban meninggal itu tidak semata hanya sakit flu. Kondisi tubuh mereka telah memburuk akibat penyakit atau hal lain seperti asma, gizi buruk, dan lain sebagaiya, baru kemudian diperparah dengan flu tersebut dan terlambat ditangani. Jadi, jangan sampai tertipu berita-berita oleh media. Memang betul mungkin, misalnya disebutkan di sana: 2 orang meninggal karena flu babi di negara XXX. Tapi tidak disebutkan kan, misalnya, ada 5 orang meninggal karena flu biasa di sana? Inilah yang disebut kebohongan statistik. Bahkan di negara-negara dimana telah sangat banyak terjadi kasus flu ini, para penderita sudah tidak lagi diisolasi dan bisa sembuh dengan sendiri setelah dirawat di rumah saja.
Lalu bagaimana dengan di Indonesia sendiri? Di negara ini, flu A H1N1 ini masih dianggap kasus flu baru. Karena jumlah kasusnya belum sebanyak di negara lain, pemerintah masih berupaya sekuat tenaga untuk menghentikan penyebarannya. Ditambah pula mengingat kasus flu A H5N1 di Indonesia belum benar-benar berhasil diberantas 100%, ada kekhawatiran jika kedua jenis virus bercampur sehingga dapat memunculkan virus lain yang jauh lebih berbahaya.
Jadi dengan kata lain, memang betul apa yang dirasakan Hamdan dan pasien-pasien lainnya. Mereka bukan mengidap penyakit parah, jadi tak merasa sampai perlu diopname. Memang benar! Mereka tidak dirawat disana untuk kepentingan kesehatannya sendiri, melainkan demi kesehatan orang lain atau DEMI KEPENTINGAN ORANG BANYAK. Mereka tidak sedang menyelamatkan dirinya sendiri. Mereka sedang MENYELAMATKAN NEGARAnya. Mereka memenuhi tanggung jawabnya sebagai warga negara, memberikan dukungan pada pemerintah demi kecintaan pada tanah air mereka.
Saya tahu, bahkan pemahaman yang seperti itu tak mampu sepenuhnya mengobati atau menghibur suami saya yang merasa ‘tersiksa’ di ruang isolasi itu. Tapi ya, saya yakin hal itu cukup menggelitik nuraninya. Selama ini kecintaan terhadap tanah air dan rasa nasionalisme begitu mudah kita ucapkan, diteriakkan dengan penuh perasaan yang menggelora. Tapi bagaimana dengan wujud nyatanya? Tidak banyak orang yang bertindak sesuai dengan prinsip yang digembar-gemborkannya itu dengan mudah, dan memang tidak banyak juga orang yang diberi kesempatan untuk itu. Di zaman sekarang ini, tidak diperlukan mengangkat senjata bambu runcing untuk melawan penjajah. Kebetulan sedang tidak ada kesempatan menunjukkan kecintaan kita pada ibu pertiwi dengan cara seperti itu. Sekarang ini, mungkin malah hal-hal yang seolah remeh yang menjadi jalannya. Cukup dengan membayar pajak, misalnya. Atau dengan sukarela menyerahkan diri untuk diisolasi ketika diduga mengidap suatu penyakit baru yang bisa menjadi wabah. Tindakan yang sepertinya KECIL, dan mungkin TIDAK ENAK serta TIDAK MENARIK PERHATIAN memang, tapi inilah merupakan wujud nyata jihad yang sesungguhnya. Bukan tindakan bombastis dan sok heroik seperti mengebom warga negara asing yang jelas-jelas malah merupakan pengkhianatan terhadap bangsa dan tanah air.


Ditulis dengan rasa kagum dan bangga pada para penderita flu A H1N1 yang rela berkorban dikarantina demi banyak orang lainnya (saya sendiri tak yakin bisa demikian)....terimakasih, semoga Tuhan membalasnya berkali-kali lipat. Amiiin.

- H e i D Y -
 
posted by Heidy Kaeni at 6:28 AM | 1 comments
Your Blogging Type Is Thoughtful and Considerate
You're a well liked, though underrated, blogger.
You have a heart of gold and are likely to blog for a cause.
You're a peaceful blogger - no drama for you!
A good listener and friend, you tend to leave thoughtful comments for others.
What's Your Blogging Personality?